Tampilkan postingan dengan label kajian buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kajian buku. Tampilkan semua postingan

Minggu, Agustus 30, 2009

Dan Toch Maar, Grote Zeeman


Judul: DAN TOCH MAR, Apa boleh buat, maju terus!

Sub Judul: Ingatan dan Pengalaman ADELBORST INDONESIA 1949 – 1957

Penulis: Sukono, Eddy Tumengkol, R.Sunardi Hamid, H.E. Kawulusan, O. Amin Singgih.

Terbitan: Agustus 2009

Penerbit: Penerbit Buku Kompas


Sebagaimana tertera pada sub judul, buku ini berkisah tentang suka duka para taruna Koninklijk Instituut voor de Marine (KIM) asal Indonesia, promosi tahun 1950 sampai 1953. Mulai dari kisah masa pendaftaran, seleksi dan pemberangkatan ke Belanda. Bagaimana para taruna muda harus memendam rasa kebencian karena berhadapan dengan “musuh” perang, sampai akhirnya timbul rasa saling menghormati. Setelah selesai menempuh pendidikan di KIM, mereka dihadapkan dengan kondisi politik yang “meminggirkan” kiprah mereka. Apapun kondisinya, mereka tetap tegar dan tabah menerima kondisi tersebut. Dan Toch Maar.


Buku ini terdiri dari tujuh bagian, dimana bagian I sampai IV merupakan berbagai cerita, pengalaman serta pengamatan para penulis selama mengikuti masa pembentukan perwira di KIM dari promosi 1950 sampai dengan promosi 1953. Bagian V adalah pengalaman masa bakti para lulusan KIM di TNI-AL. Bagian VI dan VII adalah berbagai tulisan tentang renungan serta refleksi pengalaman selama dan pasca penugasan selama di TNI-AL.


Proses menjadi perwira di KIM tidak disebut “pendidikan perwira” (officiersopleiding) tetapi “pembentukan perwira” (officiersvorming), dimana para Adelborst mendapat pengajaran ilmu, latihan praktek, serta pembentukan watak perwira. Hasil akhir yang diharapkan adalah seorang pemimpin yang cakap dan bijak; penguasaan ilmu dan kemampuan untuk aplikasi lapangan; serta beradab dan terhormat sebagai perwira. Istilah yang tepat untuk penggambaran pembentukan perwira ini adalah “An Officer and a gentleman”.


Akibat kondisi politik, para alumni KIM dipinggirkan. Mereka harus berhadapan dengan para “ALRI Gunung”, istilah yang digunakan untuk para perwira, yang sebagian besar adalah para pejuang kemerdekaan yang lebih banyak berjuang di daratan ketimbang di laut. Di samping itu, sebagian besar para perwira “ALRI Gunung” tidak didukung oleh pendidikan maritim dan kemampuan teknis yang memadai. Konfrontasi dengan RI dengan Belanda, secara tidak langsung mempengaruhi karir para alumni KIM di TNI-AL. Disinggung pula tentang “kudeta” pimpinan ALRI tahun 1959 dan Gerakan Perwira Progresif Revolusioner (GPPR). Kedua gerakan ini, yang dimotori oleh beberapa alumni KIM, pada akhirnya mempengaruhi “keberadaan” para alumni KIM di TNI-AL di kemudian hari. GPPR pada pertengahan tahun 1965, membuat ALRI seperti macan ompong, karena hampir 150 perwira terlatih “dipaksa” keluar dari dinasnya. Perwira-perwira yang tersisa, hanya sedikit sekali yang memenuhi kualifikasi. Peristiwa ini tidak disiarkan secara resmi, karena kondisi politik dimana Indonesia sedang berkonfrontasi dengan Malaysia dan dikhawatirkan isu ini bakal dimanfaatkan untuk melemahkan kekuatan perang Indonesia.


Yang cukup menarik adalah pembahasan mengenai Visi Maritim. Pada KIM, ini adalah sebuah mata pelajaran yang tidak menentukan untuk kenaikan kelas, namun sangat menggugah sanubari dan cara pandang kita atas dunia kelautan. Kolonialis Belanda berhasil mengubah “mindset” bangsa Indonesia, dari paradigma “Land Oriented” menjadi “Archipelagic/Maritime Oriented”. Jika kita berhasil merubah paradigma ini, bukan mustahil Indonesia akan menjadi penjelmaan kerajaan Sriwijaya atau kerajaan Majapahit versi millennium ke-3. Dua syarat yang harus dipenuhi untuk diwujudkan adalah: (1) pengembangan dan pembangunan unsur inti kemaritiman (pelayaran niaga, perikanan, industri maritim/perkapalan, pengeboran lepas pantai, pariwisata bahari), dan (2) kebijakan pendukung pengembangan industri maritim/perkapalan.


Para alumni KIM memberikan sumbangsih besar pada pembentukan TNI-AL saat ini. Beberapa kontribusi para alumni KIM yang menonjol adalah keberadaan Dinas Penerbangan TNI- AL (DISPENERBAL) serta Komando Pasukan Katak (KOPASKA). DISPENERBAL dirintis oleh alumni KIM 1953, yang mendapat pendidikan di Pangkalan Udara AL (Marine Vliegkamp) di Valkenburg sebagai awak navigator udara (Waarnemer) serta mendapat pendidikan penerbang militer pada AU Inggris (Royal Air Force).


Urip Santoso, alumni KIM 1953, adalah salah satu peletak dasar “pembangunan” satuan elit TNI-AL, KOPASKA. Urip, yang sebelum menjadi Adelborst KIM adalah seorang perwira TNI-AD berpangkat Kapten, dikirim belajar pada unit demolisi bawah laut (Underwater Demolition Team = UDT) US Navy. UDT US Navy adalah cikal bakal US Navy SEAL. Sekembalinya dari pelatihan tersebut, Ia bersama Letkol OP Koesno, ditugaskan untuk membentuk Komando Pasukan Katak.


Akibat dari peristiwa GPPR tahun 1965, hanya sedikit dari alumni KIM yang meniti dan mengakhiri karir di TNI-AL. Alumni KIM yang menonjol antara lain: Laksdya (purn) Teddy Asikin (promosi KIM 1951); pernah menjadi Deputi KSAL, dan Letjen Mar (purn) Kahpi Soeriadiredja (promosi KIM 1952); pernah menjadi Danjen Korps Marinir, Danjen AKABRI serta Pangkowilhan IV (Maluku-Irian).


… Officer on the deck, ten hut….



Salam...

Minggu, Maret 22, 2009

PERJALANAN SEORANG SINTONG PANJAITAN



JUDUL: Sintong Panjaitan - Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando
PENULIS: Hendro Subroto
TERBIT: Maret 2009
Cetakan: keempat – Maret 2009
PENERBIT: Penerbit Buku Kompas
Halaman: 522 + xxx







Selama dua minggu, penulis menyatroni sebuah toko buku besar di bilangan Matraman, Jakarta untuk mencari buku ini dan akhirnya tadi malam (21/3), berhasil mendapatkannya. Buku ini sudah mendapatkan ekspose yang luar biasa semenjak hari pertama terbit. Bahkan pada launching buku ini, beberapa stasiun TV meliput secara langsung acaranya. Apa sich yang membuat buku ini heboh?
Unofficial biography
Seperti yang ditegaskan oleh Pak Hendro Subroto, penulis buku ini, buku ini bukan merupakan otobiografi maupun biografi dari Letjen (Purn) Sintong Panjaitan. Hendro Subroto adalah wartawan ‘perang’ kawakan yang sangat dekat dengan ABRI/TNI. Sebagai jurnalis TVRI, beliau terjun langsung meliput ke kawasan ‘perang’. Beberapa peristiwa ‘penting’ ia liput secara langsung: konfrontasi dengan Malaysia di Serawak, operasi penumpasan DI/TII di Sulseltra, termasuk meliput langsung tewasnya Kahar Muzakar, pengangkatan jenazah para jenderal di Lubang Buaya pada G30S, juga meliput operasi penumpasannya di Jateng, operasi jelang Pepera Irian, operasi Seroja di Tim-Tim. Liputan ‘perang’ di luar negeri yang pernah dilakukan adalah perang Vietnam, perang Kamboja, perang perbatasan Vietnam – Cina, perang sipil di Sudan Selatan tahun 1986, dan perang teluk tahun 1991. Dari pertemuan selama meliput ‘perang’ di dalam negeri inilah, Hendro Subroto mengenal Sintong Panjaitan.
Lahir pada tanggal 4 September 1940 di Tarutung dengan nama Sintong Hamonangan Panjaitan. Ia anak ketujuh dari sebelas bersaudara. Semula ia tertarik untuk mengabdi menjadi prajurit AURI. Ketertarikan pada AURI, karena ia tertarik akan ‘kehebatan’ pesawat Tjotjor Merah (P-51 Mustang) AU Belanda pada perang kemerdekaan. Selepas SMA, ia mendaftar ke AAU dan dinyatakan diterima dengan syarat harus operasi amandel. Setelah operasi, ternyata panggilan masuk pendidikan tidak muncul. Sebenarnya ia sudah dipanggil kembali, namun surat panggilan tersebut disembunyikan oleh ibunya. Sambil menunggu panggilan dari AURI, Sintong mengikuti tes masuk Akademi Militer Nasional (AMN) dan diterima sebagai taruna pada tahun 1960. Ia lulus dengan urutan 38 dari 117 taruna pada tahun 1963.
Kemudian mengikuti sekolah dasar kecabangan infanteri dan selanjutnya ditempatkan sebagai perwira pertama di Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD). Sambil menunggu untuk ikut sekolah para komando, sebagai syarat kualifikasi anggota RPKAD, ia ‘dimagangkan’ menjadi danton pada Yonif 321, Brigif 13, Kodam Siliwangi. Bersama Yonif 321 ini, ia terjun dalam penumpasan DI/TII di Sulseltra dengan sandi ‘operasi kilat’. Pada Februari 1965, ia masuk sekolah para komando dan lulus enam bulan kemudian. Nyaris diterjunkan ke Sarawak untuk memandu sukarelawan, namun keburu terjadi G30S.
Pada awal penumpasan G30S, Sintong terlibat aktif. Ia bersama anggota peletonnya, berhasil merebut Gedung RRI Pusat, pengamanan pangkalan Halim Perdanakusuma, dan menemukan ‘kuburan’ korban penculikan di Lubang Buaya. Kemudian ditugaskan ke daerah Jateng untuk menumpas G30S serta para petinggi PKI yang kabur ke daerah ini. Daerah Jateng merupakan basis PKI ‘terkuat’ karena hampir semua pejabat militer ‘level atas’ di daerah ini berhasil dibina oleh PKI.
Pada awal tahun 1967, Sintong ditugaskan ke Irian Jaya dalam rangka Pepera. Penugasan di daerah ini dijalani sampai dengan awal tahun 1970. Pada akhir tahun 1972, ditugaskan di Kalbar dalam rangka penumpasan PGRS/PARAKU. Ikut serta dalam perencanaan operasi linud dalam rangka ‘merebut’ kota Dili pada Desember 1975, namun karena suatu hal tidak dapat ikut serta. Meskipun diawal integrasi Tim-Tim tidak ikut dalam operasi Seroja, karena mengikuti Seskoad, namun ia termasuk ‘akrab’ dengan daerah Tim-Tim.
Sukses dalam operasi pembebasan sandera ‘Woyla’, membawanya menjadi Komandan Grup 3/Sandiyudha di Kariango, Makassar. Pada saat reorganisasi ABRI pada tahun 1985, ia ditugaskan komandan jenderal pasukan elit AD. Dengan berat hati, ia melakukan ‘perampingan’ dan merubah Kopasandha menjadi Kopassus. Sukses dengan reorganisasi Kopassus, ia menjadi Danpussenif dan ditugaskan untuk melakukan pembenahan organisasi. Pembenahan organisasi Pussenif berjalan sukses dan Ia dipromosikan menjadi Pangdam IX/Udayana, posisi komando terakhir yang dijabatnya dalam lingkup TNI, sebelum terjungkal akibat peristiwa 12 November 1991.
Mei 1998
Kerusuhan Mei 1998 mendapat perhatian khusus dari Sintong Panjaitan. Pada bab ini, ia menceritakan bagaimana keterlibatan serta peristiwa sebelum dan sesudah peralihan kekuasaan. Sebagai penasehat ‘militer’ Habibie, sebuah fungsi yang telah dijalaninya semenjak tahun 1994, ia banyak memberi masukan pada Habibie pada saat-saat peralihan. Ia yang mengusulkan pada Habibie, agar dapat memberikan pernyataan guna menenangkan masyarakat akibat kerusuhan 13 dan 14 Mei 1998.
Ia mempertanyakan sikap Jenderal Wiranto, yang saat itu menjadi Menhankam/Pangab, yang ‘meninggalkan’ Jakarta untuk menjadi inspektur upacara serah terima Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) di Malang pada tanggal 14 Mei 1998. Kepergian ke Malang diikuti oleh hampir petinggi ABRI. Sampai saat ini, tidak ada kejelasan mengapa hampir semua petinggi militer malah terkesan ‘cuek’ atas kerusuhan yang terjadi. Wiranto pun sering kali menghindar dan apabila terpaksa menanggapi masalah ini, terkesan ‘melempar’ tanggung jawab pada Pangdam Jaya.
Sintong mempertanyakan mengapa Inpres no. 16/1998 tentang pembentukan Komando Operasi Kewaspadaan dan Keselamatan Nasional (KOPKKN), sejenis Kopkamtib pada awal era orba, tidak dijalankan oleh Wiranto. Sintong berpendapat seharusnya Wiranto mundur dari jabatannya karena menolak menjalankan perintah dari Presiden selaku panglima tertinggi. Bagi Sintong, disiplin prajurit tidak dilaksanakan oleh Wiranto karena menolak perintah atasan dan sudah sepatutnya mundur.
Sintong juga mempertanyakan peran Prabowo pada masa peralihan tersebut. Mengapa ia tidak berusaha keras untuk membela Soeharto, yang notabene mertuanya? Padahal Ia punya ‘kekuatan’ untuk dapat tampil membela mertuanya. Akan tetapi justru, ia bergabung dengan ‘gerakan reformasi’, yang membuatnya dimusuhi oleh keluarga Cendana. Prabowo, melalui ‘antek’-nya: Mayjen Kivlan Zein (Kas Kostrad waktu itu) dan Mayjen Muchdi PR (Danjen Kopassus), merekayasa surat dari Jenderal Besar AH Nasution agar dijadikan KSAD. Prabowo mengetahui bahwa Habibie sangat hormat pada Pak Nas. Sintong mempertanyakan peran Mayjen Muchdi PR yang menurutnya janggal. Mengapa Danjen Kopassus mau menerima perintah dari Pangkostrad (Prabowo), padahal Kopassus dan Kostrad berkedudukan sejajar?
Sintong juga memberikan klarifikasi tentang pergantian jabatan Prabowo, dari Pangkostrad menjadi Dansesko ABRI. Putusan pergantian tersebut diputuskan oleh Habibie dan disampaikan langsung ke Wiranto. Klarifikasi ini dirasa perlu karena seolah-olah merupakan tindakan balas dendam Sintong karena pemecatan sebagai Pangdam Udayana akibat peristiwa 12 November 1991. Menurut Sintong, Mabes ABRI belum pernah menyampaikan laporan resmi tentang peristiwa 12 November 1991, namun Presiden sudah memberikan ‘hukuman’ terlebih dahulu. Dasar ‘hukuman’ tersebut berdasarkan laporan dari Prabowo dan Letkol Sjafrie Sjamsoeddin. Sjafrie Sjamsoedin, pada peristiwa 12 November 1991, menjabat sebagai Wadan Satgas Intel Kolakops Tim-Tim. Anehnya, Sjafrie berhasil lolos dari ‘hukuman’, sementara atasannya, Kolonel Binsar Aruan (Dan Satgas Intel Kolakops Tim-Tim) justru dicopot. Seharusnya Sjafrie juga ikut bertanggung jawab atas peristiwa tersebut.
Sintong mengeluhkan ‘sikap buruk’ Prabowo yang tidak sopan terhadap presiden. Prabowo datang menghadap Presiden dengan senjata lengkap pada tanggal 22 Mei sore hari. Sintong khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Oleh karena itu, ia melucuti senjata Prabowo. Selain itu, sikap Prabowo ‘menawar’ jabatan KSAD, tidak mencerminkan sikap seorang prajurit. Oleh karena itu, ia memastikan Prabowo dicopot dari jabatannya paling lambat sebelum matahari tenggelam. Jabatan Pangkostrad kemudian dikuasakan pada Mayjen Johny Lumintang, yang mencatat ‘rekor’ memegang jabatan tersebut ‘hanya’ enam jam!!
12 November 1991 versi Sintong
Sintong Panjaitan mulai menjabat Pangdam IX/Udayana sejak 12 Agustus 1988, dimana Tim-Tim merupakan salah satu daerah yang menjadi tanggung jawabnya. Pada awal masa jabatannya, ia mengubah sifat operasi militer di Tim-Tim dari operasi tempur ke operasi territorial, yang lebih murah. Peralihan sifat operasi militer ini membawa hasil keamanan yang kondusif, sekaligus menjadi awal malapetaka 12 November 1991. Pada tahun 1990, Tim-Tim dinyatakan wilayah ‘terbuka’ sama dengan wilayah lainnya. Keterbukaan ini dimanfaatkan oleh Parlemen Portugal untuk berkunjung ke Tim-Tim. Kunjungan ini direncanakan sekitar bulan Oktober - November1991.
Kunjungan tersebut akhirnya batal karena sikap ‘arogan’ Parlemen Portugis, yang tidak menghormati Indonesia serta Portugis ‘mengundang’ wartawan Internasional untuk bergabung dalam delegasi. Tidak sepantasnya Portugis berlaku seperti itu. Kunjungan ini akhirnya batal karena tidak mencapai titik temu dengan pihak Portugis.
Kunjungan delegasi Portugis sebenarnya akan dimanfaatkan oleh para pendukung kemerdekaan untuk unjuk gigi, namun niatan ini gagal. Pada tanggal 28 Oktober 1991, terjadi perkelahian antara pendukung pro-integrasi dengan pendukung kemerdekaan yang menyebabkan tewasnya pendukung dari kedua belah pihak. Prosesi penguburan pendukung kemerdekaan pada tanggal 12 November 1991 itulah pemicu terjadinya peristiwa Dili tersebut. Pada saat peristiwa tersebut, Sintong sedang mengikuti rapat di Akmil, Magelang dan keesokan harinya langsung terbang ke Dili dan mengambil alih komando militer yang ada.
Pemerintah membentuk Komis Penyelidik Nasional (KPN) untuk menyelidiki masalah ini. Sementara Mabes ABRI membentuk Dewan Kehormatan MIliter (DKM) sebagai counterpart. Pada tanggal 13 Januari 1992, KSAD mencopot 6 petinggi yang dianggap bertanggung jawab, termasuk Sintong Panjaitan.
Sintong mempertanyakan kinerja serta rekomendasi yang ternyata tidak pernah dilaporkan ke Presiden. Seperti yang telah diungkapkan sebelumnya, Presiden ‘bertindak’ terlebih dahulu berdasarkan laporan Prabowo dan Sjafrie Sjamsoeddin.
Coup d’etat Maret 1983
Tidak seperti Jenderal M. Jusuf yang berusaha menutupi peristiwa ini, Sintong Panjaitan justru malah membukanya. Jika pada buku biografi Jenderal Jusuf, hanya disebut tindakan seorang ‘perwira muda’ yang melemparkan isu adanya upaya kudeta oleh Benny Moerdani dkk, maka pada bukunya, Sintong menunjuk ‘hidung’. Secara terbuka, Ia menunjuk Prabowo sebagai pelempar isu tersebut.
Prabowo berniat menculik Benny Moerdani dkk yang diisukan akan melakukan kudeta. Asumsi Prabowo adalah Benny Moerdani ‘memasukkan’ senjata canggih ke Indonesia. Padahal persenjataan tersebut akan disalurkan ke pejuang Mujahidin Afganistan. Senjata-senjata tersebut merupakan ‘bantuan’ Indonesia, yang dibeli dari Israel dan Taiwan. ‘Bantuan’ ini juga sebelumnya telah diberikan pada pemerintah Kamboja untuk memerangi Khmer Merah serta Laos. Sintong memandang cara Prabowo mirip dengan cara Letkol Untung para Jenderal korban G30S. Tuduhan tersebut tidak terbukti.
Dampak dari peristiwa ini adalah Prabowo seolah ‘dendam’ pada semua orang yang tidak berpihak kepadanya, termasuk Sintong.
Penculikan Mahasiswa 1998
Menanggapi masalah penculikan mahasiswa tahun 1998, Sintong sangat menyayangkan tindakan yang ambil oleh Prabowo. Ia boleh mengambil tindakan apabila dirasa mengancam keamanan, namun harus dilaporkan pada atasan dalam hal ini KSAD dan Pangab. Prabowo tidak pernah melaporkan tindakan ini, sebagaimana pengakuannya pada Dewan Kehormatan Perwira (DKP).
Tim penculik yang bersandi ‘mawar’ berasal dari detasemen 81. Sebagai pendiri detasemen 81, Sintong merasa terpukul akan kenyataan ini. Ia merasa Prabowo ‘mengorbankan’ Mayor Bambang Kristiono selaku pimpinan tim mawar. Pada persidangan di mahkamah militer, tidak pernah terungkap siapa dalang yang memerintahkan tim mawar ini. Ia tahu persis, bahwa tidak mungkin tim mawar bertindak tanpa ada komando dari atas.
Satu hal menarik dari penulis, beberapa korban penculikan tim mawar ini malah bergabung dan menjadi caleg dari partai-nya Prabowo: Gerindra. Ah.. di dalam politik, tidak ada ‘musuh’ atau ‘teman’ sejati… yang ada kepentingan pragmatis…. Wahai bung-bung korban penculikan, dimana ‘air liur’ cacianmu dulu? Apakah kau telan lagi air liur itu?...

Salam…

Rabu, Desember 31, 2008

DONG MU

Judul : Dong Mu

Pengarang : Jamal

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun penerbitan : 2007

Di tengah maraknya novel-novel pop dengan “taste” teenlit dan chicklit, penulis menemukan novel yang agak serius seperti novel ini. Novel ini juga memberi warna baru, karena latar belakang cerita tentang militer dan lintas negara. Pengarang yang kesehariannya adalah dosen, cukup memberi warna tersendiri untuk nuansa “militer”, meskipun tidak terlalu kuat. Paling tidak, Mang Jamal, begitu beliau dipanggil, berani membuat novel dengan “taste” militer apalagi dibumbui dengan isu nuklir.

Novel ini menceritakan tentang Herman, orang Indonesia yang bekerja pada International Atomic Energy Agency (IAEA) dalam usahanya menyelidiki keberadaan hulu ledak nuklir milik Korea Utara. Sebelumnya, Korea Utara telah meluncurkan tujuh buah rudal percobaan dan jatuh di perairan antara semenanjung Jepang dan semenanjung Korea. Yang dicemaskan adalah adanya kemungkinan rudal-rudal tersebut dipasang hulu ledak nuklir. Kekhawatiran ini muncul karena selama ini Korea Utara sangat tertutup untuk urusan nuklir.

Master lulusan departemen kuantum dan sains, Universitas Tokyo ini ditugaskan untuk menyelidiki masalah ini bekerja sama dengan counterpart dari IAEA Jepang dan Korea Selatan. Karena Korea Utara mem-black list semua personel IAEA, maka diputuskan untuk mengajukan izin untuk masuk ke Korea Utara melalui Korea Selatan.

Di Seoul, Herman bergabung dengan Kang Jin Sob, partner-nya di Korea Atomic Research. Ia juga bertemu dengan Prof Rukayadi, sahabatnya yang ahli mikrobiologi di Universitas Sinchon. Belum lagi Herman dan Kang Jin Sob melakukan tugas resminya, mereka mendapat kabar bahwa seorang agen CIA, Robert Campbell, diculik oleh sekelompok agen intelijen Korea Utara yang dipimpin oleh Kim Song Gi. Robert Campbell adalah agen CIA yang menyamar sebagai staf pada Badan Tenaga Nuklir Amerika Serikat. Herman mengenalnya pada sebuah pelatihan di Universitas Syracuse, New York, kemudian bertemu kembali pada beberapa pelatihan terkait dengan masalah energi. Kim Song Gi, agen intel Korea Utara ini menyamar sebagai pengusaha ekspor-impor di Seoul. Ia pernah menawari Herman berbisnis uranium secara gelap, namun ditolak oleh Herman.

Kim Song Gi dan kelompoknya meminta tebusan Uranium sebagai pengganti kebebasan Robert Campbell. Ia juga meminta Herman sebagai perantara untuk proses pertukaran ini. Pihak Amerika Serikat tidak tinggal diam. Mereka membentuk task force untuk membebaskan agen CIA ini. Untuk itu, mereka melibatkan Herman dalam task force ini. Herman mengajak sahabatnya Prof Rukayadi untuk bergabung dalam task force ini. Bisakah mereka membebaskan Robert Campbell? Ada apa sebenarnya penculikan ini? Silahkan baca novelnya hehehe…

Dong Mu adalah kata dalam bahasa Korea yang berarti teman. Mungkin sepadan dengan “kamerad” dalam bahasa Rusia. Penulis melihat beberapa hal positif yang dibawa oleh novel ini:

Isu nuklir, dimana pengarang berani mengambil isu ini. Isu nuklir masih sangat awam bagi bangsa Indonesia. Mang Jamal mendapatkan dukungan data yang handal dari beberapa sahabatnya terutama dari Suhermanto Duliman, yang sehari-hari berprofesi sebagai Nuclear Safeguard Inspector di IAEA-Tokyo. Profil Suhermanto ini juga “dipinjam” oleh Mang Jamal untuk tokoh Herman. Selain itu, Mang Jamal juga “meminjam” profil Yaya Rukayadi untuk profil Prof Rukayadi. Isu nuklir ini cukup aktual bagi Indonesia yang sedang kelimpungan untuk mengatasi masalah energi, terutama masalah kelistrikan.

Keterlibatan Miiliter dan Intelijen, baik dari Amerika Serikat, Korea Selatan, Korea Utara dan juga Indonesia. Selain itu juga keterlibatan IAEA, yang ditengarai sebagai kedok bagi negara-negara besar.

Penggunaan mikrobiologi sebagai alternatif senjata melawan musuh. Kita masih ingat bagaimana KBRI Australia kewalahan diserang oleh sekelompok orang dengan menggunakan senjata mikrobiologi beberapa tahun yang lalu.

Di samping beberapa hal positif, penulis melihat beberapa hal yang masih kurang dalam novel ini:

Masih kurangnya eksploitasi tentang konflik antar negara, sehingga kesannya terlalu datar dan mudah ditebak jalan cerita selanjutnya.

Kurangnya eksplorasi karakter pada novel ini. Herman yang digambarkan pemarah dalam suatu dialog, ternyata tidak tampak pada novel ini. Profil Rukayadi juga seperti dipaksakan dan lebih banyak sebagai tempelan saja.

Jalan ceritanya terlalu lurus, sehingga gampang ditebak. Pengarang terlalu sibuk menyampaikan informasi tentang nuklir dan lupa untuk membenahi jalan ceritanya.

Dan juga beberapa kejanggalan seperti: Kang Jin Sob terlalu mudah memberikan informasi yang sangat rahasia kepada Herman; Herman dengan gampang dapat mengikuti pelatihan militer di Batujajar tanpa ada screening terlebih dahulu; Pasukan AD Amerika terlalu gampang mengijinkan Prof Rukayadi untuk ikut dalam task force tanpa melalui screening; TKI yang menjadi pasukan bantuan pembebasan.

Terlepas dari beberapa kekurangan ini, penulis mengacung jempol pada Mang Jamal yang telah mengangkat isu nuklir, intelijen, dan militer pada novelnya kali ini.


Salam..

ELANG RETAK

Judul : Elang Retak; Mati Bukan Masalah, Hidup yang Jadi Persoalan.

Pengarang : Gus Ballon

Penerbit : Q-Press

Cetakan : 1

Tahun penerbitan : 2005


Penulis tertarik untuk membaca novel ini setelah membaca beberapa resensi yang menyatakan bahwa novel ini bagus. Saking penasarannya, penulis sengaja datang jauh-jauh ke Palasari, Bandung, yang dari dulu terkenal sebagai pasar buku dengan koleksi yang lengkap, mulai jaman Rafles sampai dengan buku-buku aktual. Dan novel ini didapat penulis dalam kondisi yang bagus (masih tersampul plastik) dan dibandrol cukup murah untuk novel yang tebal ini.

Novel ini bercerita tentang satu unit pasukan komando yang ditugaskan untuk menghentikan transaksi penjualan senjata kelompok sempalan “Orde Suci” di Pulau Kabilat. Pulau ini terletak di kawasan Indonesia Timur. Setting waktu diperkirakan pada pertengahan tahun 70-an. Sebagaimana informasi pada sampul belakang dari novel ini, novel ini bercerita tentang intrik politik, pertentangan berbagai ambisi kekuasaan, pengkhianatan, kesetiakawanan, sikap satria dan perwira, kekonyolan tentara dan adanya ruang abstraksi perasaan yang terpendam. Ceritanya berkelok-kelok dan membuat penasaran.

Unit komando ini terdiri dari pribadi-pribadi yang “unik”. Mempunyai kemampuan militer yang lebih, namun tidak diimbangi dengan perilaku yang baik. Indisipliner, urakan, berani dan ganas, itulah kata-kata yang cocok menggambarkan mereka. Mereka terdiri dari 14 orang dipimpin oleh Letnan Risman Zahiri. Tim ini dibantu oleh seorang sipil bernama Harun, yang menjadi tokoh utama dalam novel ini. Harun digunakan tenaganya karena mengenal pulau Kabilat.

Harun mempunyai latar belakang yang memaksanya terlibat dalam tim ini. Diceritakan bahwa Harun terpaksa melarikan diri dari Medan karena membunuh seorang bandar judi dan secara tidak sengaja membunuh seorang polisi. Ia kemudian bergabung dengan tim voluntir bentukan US Navy Seals, yang digunakan untuk membantu Amerika dalam perang Vietnam. Ia mendapatkan pelatihan militer ala Navy Seals dan membantu militer Amerika dalam operasi logistik di daerah delta sungai Mekong. Setelah Amerika kalah di perang Vietnam, Harun kabur ke Filipina. Di sinilah ini berkenalan dengan keluarga Ferte, yang menguasai sindikasi persenjataan di Filipina dengan basis di sebuah pulau kosong di wilayah internasional. Dari seringnya terlibat dalam transaksi penjualan senjata, Harun mengenal Pulau Kabilat. Dengan semakin pentingnya peran Harun pada keluarga Ferte, namanya mulai muncul di catatan INTERPOL.

Karena merasa capek dengan kondisi yang ada, Harun kabur ke Indonesia dan ditangkap oleh ALRI (TNI AL) di perairan Ambon. Karena masih sulitnya komunikasi, maka ia lolos dari incaran INTERPOL dan kepolisian Medan. Dari situ kemudian pergi ke Jawa dan bekerja serabutan. Dari sinilah ia dijebak dan terpaksa mengikuti tim komando ini.

Sebagaiman pengantar dari penerbit, novel ini sudah selesai pada tahun 2002 dan sudah ditawarkan ke berbagai penerbit dan sebgian besar menolak menerbitkannya. Berbagai alasan diterima oleh pengarangnya, mulai dari bersifat teknis seperti naskah terlalu panjang, temanya terlalu menyindir sampai tidak direspon sama sekali. Q-Press akhirnya yang menerbitkan novel ini karena tidak melihat alasan apapun untuk tidak menerbitkannya.

Yang menjadi misteri adalah pengarangnya. Novel ini tidak memberikan data apapun tentang pengarangnya. Sungguh disayangkan akan hal ini karena dengan ketiadaan data pengarang, kita tidak akan mengetahui kiprahnya (bila) menerbitkan novel lainnya.

Alur ceritanya menarik dan menegangkan. Penuh perenungan diri dari Harun sang tokoh dalam cerita ini, seperti perenungan yang menarik dan dijadikan sub judul novel ini: mati bukan masalah, hidup yang jadi persoalan.

NORTH WING

Judul : North Wing (Sorga Di Kapal Tua)

Pengarang : Arifin

Penyadur : Frederick IHM

Penerbit saduran : Kartika Bahari Press - Cirebon

Tahun penerbitan saduran : 2008

Penyadur berupaya untuk melestarikan novel ini dengan menyadurnya dari novel aslinya. Novel aslinya diterbitkan pada tahun 1968 dengan judul Sorga Di Kapal Tua. Upaya penyaduran ini adalah upaya untuk membangkitkan kembali semangat kebaharian. Sebagaimana kita ketahui, nusantara kita didominasi oleh laut. Dari 9 selat terpadat pelayarannya, 4 selat di antaranya berada di Indonesia. Sudah sepantasnya kita menguasai apa yang seharusnya miliki kita di laut, seperti semboyan kebanggan bangsa Inggris: Rule, Britania, Rule The Wave.

Di samping itu, penyadur melihat novel-novel karya Arifin sudah tidak ada lagi serta tidak ada upaya untuk memperbaharui novel tersebut. Penyadur sudah berupaya untuk menghubungi pengarang ataupun penerbitnya, namun sudah tidak diketahui lagi keberadaanya. Alasan untuk melakukan penyaduran adalah untuk membangkitkan semangat bahari serta mengenalkan komunitas pelaut, dimana penyadur juga berprofesi sebagai pelaut dan dosen pada Akademi Maritim Suaka Bahari – Cirebon.

Novel ini menceritakan seorang pelaut yang berprofesi sebagai markonis pada sebuah kapal penumpang. Profesi sebagai markonis merupakan suatu profesi terhormat dan penting selama lebih dari 90 tahun. Profesi ini sekarang praktis hilang dengan adanya pemanfaatan sistem komunikasi satelit serta adanya Sistem Global Keselamatan dan Marabahaya (Global Maritime Distress and Safety Systems = GMDSS). Dahulu sebuah kapal penumpang tidak bisa berlayar apabila tidak ada pelaut yang bertugas sebagai markonis. Akibat terbatasnya tenaga markonis, sering dijumpai kapal tertahan di pelabuhan karena ketiadaan markonis.

Setting novel ini diperkirakan sekitar awal tahun 60-an. Hal ini dapat dilihat dari adanya kisah tembak-menembak tentara pusat dengan PRRI serta banyaknya istilah – istilah yang sering digunakan seperti konfrontasi, ganyang, nyerempet bahaya (vivere pericolosamante). Pekuper dan lain-lain.

Sesuai dengan judul saduran,novel ini menceritakan tentang seorang markonis bernama Marco di atas kapal North Wing. Marco adalah pensiunan sersan mayor dari Angkatan Darat, dimana ia mengikuti program Wajib Militer Darurut (WAMILDA) untuk menjadi seorang pelaut. Setelah menganggur cukup lama, ia melamar ke North Oceanic Lines untuk menjadi seorang markonis. Ia diterima dan dikontrak untuk mengikuti perjalanan kapal penumpang North Wing ke Teluk Bayur – Padang dari Tanjung Priok.

Karena sulitnya transportasi pada waktu itu, kapal penumpang adalah salah satu moda transportasi yang favorit. Oleh karena itu, setiap kali kapal penumpang datang, selalu dijejali oleh penumpang. Sampai-sampai kamar kerja para mualim disewa oleh penumpang. Kamar kerja Marco pun yang berfungsi sebagai ruang radio, tidak luput “dijual” untuk disewakan kepada penumpang. Kamar ini disewa oleh tiga orang gadis: Hayati, Nurlely dan Zaleha. Ketiga gadis ini hendak ke Jakarta untuk meneruskan pendidikan. Selama perjalanan ini, Marco jatuh hati dengan Hayati. Akan tetapi sesampai di Jakarta, mereka berpisah. Marco pun patah hati menghadapi kondisi ini. Kemudian datang Mieke, sekretaris direksi North Oceanic Lines, yang dari awal bertemu sudah jatuh hati dengan Marco.

Karena suatu hal, Marco diberhentikan sebagai markonis kapal North Wing. Oleh Mieke dijanjikan untuk mendapatkan segera pekerjaan markonis di kapal lain. Akhirnya ia mendapat pekerjaan di kapal North Point. Dari kedekatan inilah, Marco jatuh hati dengan Mieke dan akhirnya menikah.

Salut buat penyadur yang berusaha keras untuk memberikan informasi seputar cerita ini. Hal ini sangat berarti buat penulis yang bukan berasal dari jaman terjadinya fiksi ini. Banyak istilah-istilah orde lama, yang penyadur berikan informasi. Apa dan bagaimana kehidupan tahun 60-an juga disajikan secara apik. Di samping itu juga, penyadur juga memberikan banyak informasi tentang pekerjaan pelaut di sebuah kapal. Untuk ke depan, ada baiknya penyadur memperbaiki tata letak seperti paragraf serta note sehingga enak untuk dibaca serta dapat menipiskan jumlah halaman yang ada.

Sekali lagi salut buat penyadur.

Senin, Desember 15, 2008

POKOK – POKOK GERILYA

Judul : Pokok – Pokok Gerilya dan Pertahanan Republik Indonesia di Masa Lalu dan Yang Akan Datang

Pengarang : Jenderal (Besar) A.H Nasution

Penerbit : Angkasa – Bandung

Cetakan : IV

Tahun penerbitan : 1980


POKOK – POKOK GERILYA merupakan salah satu karya monumental dari Jenderal Besar A.H Nasution yang diterbitkan dalam bentuk buku pada tahun 1953. Buku ini merupakan salah satu buku pengantar untuk buku yang lain, SEKITAR PERANG KEMERDEKAAN yang dibukukan dalam 11 jilid. Buku yang menjadi referensi tulisan ini adalah cetakan ke 4 yang diterbitkan pada tahun 1980.


Dalam buku ini, Pak Nas memberikan sumbang saran serta memberikan contoh langsung, dimana beliau memimpin langsung sebagai Panglima Tentara Teritorium Djawa pada masa perang kemerdekaan. Strategi serta taktik gerilya yang Beliau kembangkan, berhasil melumpuhkan Tentara Belanda yang memiliki persenjataan modern pada saat itu.


Di samping itu juga, Beliau juga memiliki pengalaman praktis menghadapi perang anti-gerilya, dimana beliau berhadapan dengan DI/TII. Ironisnya, justru DI/TII menggunakan strategi dan taktik gerilya yang dikembangkan sang jenderal besar, sehingga mampu bertahan sekitar 15 tahun melakukan perang gerilya terhadap pemerintah RI.


Pak Nas memberikan pelajaran dasar tentang perang gerilya, dimana perang bukan hanya terdiri atas pengetahuan tentang taktik, strategi dan logistik, akan tetapi juga tentang ilmu politik, propaganda, ekonomi dan sosial. Beliau juga menegaskan seiring dengan berkembangnya bentuk-bentuk perang gerilya, pada prinsipnya perang gerilya adalah sama. Yang membedakan satu bentuk dengan bentuk lainnya hanyalah coraknya saja…


Dasar perang gerilya yang dikembangkan oleh Pak Nas diadopsi dari pedoman perang gerilya Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok (TPRT) dimana strategi dan taktik dikembangkan dari 4 garis besar:

· Apabila musuh maju, maka kita mundur

· Apabila musuh bertahan, maka kita ganggu

· Apabila musuh mengalami kelelahan, kita serang

· Apabila musuh mundur, maka kita kejar.


Oleh karena itu ciri khas dari perang gerilya:

· Menghindari perang terbuka, dan berusaha mengganggu musuh secara sporadis.

· Menyerang musuh dengan penuh perhitungan.

· Didukung dengan organisasi yang rapi dan disiplin.

· Menghancurkan musuh secara berlahan, oleh karena itu perang gerilya yang terjadi, memakan waktu yang lama

· Bekerja sama secara erat dengan rakyat, dimana pihak gerilyawan berusaha merebut simpati rakyat dan secara tidak langsung menjadi pelindung bagi para gerilyawan.


Pada buku inilah, Pak Nas memperkenalkan idenya tentang organisasi militer, yang di kemudian hari dipergunakan sebagai dasar pengembangan organisasi di lingkungan TNI-AD, seperti adanya babinsa, dibentuknya kodam, kodim dan koramil. Beliau juga memperkenalkan istilah pasukan lokal-defensif dan pasukan mobil-ofensif. Pasukan lokal-defensif di kemudian hari dikenal dengan istilah Batalyon Teritorial, sementara pasukan mobil-ofensif dikenal sebagai Batalyon Tempur.


Salam