Minggu, Februari 22, 2009

TIMOR-TIMUR: TIMOR LESTE NOW


Setelah diberi kemerdekaan oleh PBB pada tanggal 20 Mei 2002, Timor Leste langsung ‘dikerjain’ oleh Australia dengan penanda tanganan perjanjian Celah Timor. ‘Dikerjain’ karena perjanjian tersebut hanya memberikan sebagian kecil dari ‘jatah’ Timor Leste atas Celah Timor, sementara ‘jatah’ besar dinikmati oleh Australia. Celakanya, perjanjian ini berlaku selama 30 tahun. Selain itu, Australia sudah memasang rambu-rambu sehingga Timor Leste tidak berdaya untuk merubah perjanjian tersebut.

Politik

Presiden Timor Leste, yang merupakan kepala negara Timor Leste dipilih setiap 5 tahun sekali. Meskipun lebih banyak fungsi seremonial, namun ia memiliki hak veto undang-undang. Sebagai kepala pemerintahan dipilih seorang perdana menteri.

Parlemen timor Leste hanya terdiri dari satu kamar dan disebut Parlamento Nacional dengan jumlah anggota 65 orang. Undang-Undang Dasar Timor Leste didasarkan pada konstitusi Portugal. Berdasarkan hasil pemilu ahun 2007, dua partai besar: Fretilin dan CNRT menguasai 21 kursi dan 18 kursi parlemen.

Hankam

Tahun 2001 dibentuk Falintil-Forcas de Defesa de Timor Leste (F-FDTL) atau Timor Leste Defense Force (TLDF). Kekuatan TLDF terdiri dari 2 Yonif yang berkedudukan di Baucau dan Metinaro, 2 patrol boat yang merupakan komponen AL bermarkas di Port Hera, Dili serta 1 kompi markas, 1 satgas POM, 1 satgas Logistik.

TLDF, sesuai dengan konstitusi Timor Leste, berfungsi untuk pertahanan terhadap serangan dari luar. Untuk mengatasi masalah keamanan dalam negeri, maka dibentuk Policia Nacional de Timor Leste (PNTL). Meskipun telah ada pembagian fungsi secara jelas, namun dalam pelaksanaannya masih tumpang tindih. Tumpang tindih fungsi ini menyebabkan pemerintah Timor Leste belum mampu menjalankan fungsi hankam nasional. Ketegangan sering terjadi antara TLDF dan PNTL. Selama tahun 2003 dan 2004, terjadi baku hantam dan saling serang antara TLDF dan PNTL.

TLDF juga mengalami masalah degradasi moral serta masalah kedisiplinan yang sangat serius. Pangakl dari masalah ini adalah tidak jelasnya peran yang dijalankan, keterbatasan persenjataan, transisi perubahan dari organisasi gerilya menjadi organisasi militer reguler. Diperkirakan saat ini TLDF diperkuat oleh 1.800-an prajurit.

Untuk pengembangan TLDF, masih sangat tergantung dari bantuan asing. Australia meberika satu penasehat militer yang ditempatkan di kementerian hankam serta TLDF. Cina member bantuan sebesar USD 1,8 juta. Brasil member bantuan pelatihan untuk unit POM. AS memberikan bantuan melalui IMET.

Pada tahun 2004, pimpinan TLDF membentuk tim untuk merancang blue print hankam dengan nama Force 2020. Beberapa hal yang disebutkan dalam blue print tersebut adalah penerapan wamil untuk menambah kekuatan TLDF dan budget pertahanan sekitar 2,6% sampai 3,3% dari GDP Timor Leste.untuk budget anggaran, PBB, Australia dan AS mengkritik penetapan angka tersebut.

Saat ini TLDF dipimpin oleh Brigjen Taur Matan Ruak, seorang veteran perang gerilya melawan Indonesia selama ini. Ia telah memimpin sayap militer gerakan pro-kemerdekaan semenjak tahun 1992.

Ekonomi

Harapan untuk mendapatkan banyak dolar dari Celah Timor sangat tipis. Australia sudah menelikung Timor Leste sejak awal dan baru disadari oleh Timor Leste kemudian.

Timor Leste mengadopsi mata uang Dolar AS sebagai mata uangnya. Hal ini membuat daya beli masyarakat jauh menurun dibandingkan dengan masa integrasi dulu.

Tingkat pengangguran masih sangat tinggi, yakni 50% terutama di daerah Dili dan Baucau.

Ketergantungan dengan Indonesia masih sangat besar (diperkirakan 50% dari total impor menurut data tahun 2005) terutama sembako dan BBM. Australia pernah mencoba untuk ‘memutus’ rantai perdagangan dengan Indonesia, namun gagal. Hal ini disebabkan produk-produk Australia yang mahal dan tidak dikenal oleh warga Timor Leste. Secara umum, neraca perdagangan Timor Leste masih defisit. Menurut data tahun 2005, ekspor Timor Leste senilai USD 8 Juta, sementara impor Timor Leste senilai USD 101 Juta.

Oleh sebab itu, perekonomian Timor Leste masih ‘mengemis’ pada negara lain yang mau memberikan donor.

Pada tahun 2007, di beberapa daerah Timor Leste sempat terjadi krisis pangan. ada sebelas daerah setingkat kecamatan yang mengalami krisis pangan.

Hubungan luar negeri

Sebagai negara miskin dan terbatasnya SDM, Timor Leste sangat lamban dalam membuka jaringan kedutaan besarnya di luar negeri. Timor Leste lebih mendahulukan pembukaan hubungan dengan tetangga dekat, negara-negara ‘katolik’ dan berbahasa Portugis.

Beberapa masalah terkait dengan Indonesia masih terus dibicarakan seperti masalah pengungsi pasca referendum, masalah perbatasan, perdagangan, instalasi-instalasi milik Indonesia di Timor Leste dan Celah Timor.

Tercatat 14 negara yang telah membuka kedutaan besar di Dili, yakni: Australia, Brasil, Cina, Kuba, Indonesia, Jepang, Korsel, Malaysia, Selandia Baru, Norwegia, Philipina, Portugis, Thailand dan AS.

Salam…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar